Wednesday, 8 May 2013

Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah Cikole Diminta Maksimalkan OUTCOME



DPRD Jabar  Minta Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah Cikole
Maksimalkan OUTCOME
Bandung. 1.  
Komisi B DPRD jabar meminta agar outcome balai Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah Cikole lembang  bisa dimaksimalkan  diantaranya dengan menjalin kerjasama dengan BUMD yang dimiliki Jawa Barat hal ini terkait dengan besarnya potensi yang dimiliki balai ini .
Sebagaimana dikatakan anggota Komisi B Eka Hardiana saat anggota komisi B DPRD Jabar melakukan kunjungan kerja Ke  UPTD Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah dan Hijauan Makanan Ternak Cikole Lembang untuk evaluasi  program kerja TA 2012 dan kegiatan TA 2013.
UPTD Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah dan Hijauan Makanan Ternak Cikole Lembang yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perternakan Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu balai yang dinilai cukup berhasil dan berpotensi dalam pengembangan ternak sapi. Bahkan balai ini menjadi rujukan nasional sehingga sering menjadi tempat pelatihan dan dikunjungi oleh beberapa tamu dari provinsi lain bahkan dari luar negeri.
            Sementara dengan  besarnya anggaran yang dialokasikan untuk balai ini , Nia Purnakania mempertanyakan  pengaruhnya bagi luasan hijau pakan ternak, apakah semakin bertambah atau berkurang, karena seharusnya dengan alokasi anggaran yang besar diharapkan luasannya akan bertambah.
   Pihak UPTD   Andy Hariswan,  mengemukakan untuk tahun 2013 ini, balai mendapatkan anggaran sebesar 5,6 milyar untuk 5 kegiatan.  Dengan realisasi sampai April 2013 baru mencapai 21, 43 persen. Target PAD yang dibebankan adalah sebesar 900 juta dengan realisasi baru mencapai 236,2 juta atau sekitar 26,25 persen.
   " Realisasi yang dibawah target terkait  SP2D dan GU-LS yang masih dalam proses serta pergantian bendahara yang tentunya membawa konsekuensi penyelesaian dalam administrasinya," demikian dijelaskan Andy.
            Kabid Produksi Ternak Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, Ir. R. Taufik Garsadi, M.Si  yang menyertai kunjungan DPRD jabar ini mengatakan untuk outcame UPTD, tiga tahun lalu lebih banyak untuk PAD. Dengan anggaran di bawah 1 milyar  balai  bisa memberikan kontribusi untuk PAD sampai di atas 1 milyar.
   " Dulu  hanya mengejar PAD sehingga bibit unggul pun dijual, namun sekarang paradigmanya kami ubah, sehingga balai kini fokus pada pengembangan bibit sapi perah dan pakan ternak,"  jelas Taufik.
            sedangkan bila dikembangkan untuk menjadi objek wisata sebagaimana yang diusulkan Eka, bisa saja namun akan membawa konsekuensi karena resiko sapi menjadi stress dan rentan terhadap penyakit karena area yang terbuka. Yang memungkinkan menurut Taufik, ke depan balai bisa saja membuka showroom untuk bibit ternak sapi, sedangkan dengan  meningkatnya harga penjualan sapi serta harga konsentrat pakan yang tinggi serta harga jual susu yang tidak meningkat membuat peternak sapi perah tertekan sehingga banyak yang beralih menjadi peternak sapi potong.
            Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi peternak, menurut Taufik pihaknya   telah melakukan MoU dengan Perum Perhutani sehingga peternak sapi bisa menggarap lahan Perhutani diantaranya di Lembang, Garut dan Pangalengan. Balai  juga telah menggaet CSR dari pihak swasta diantaranya  dari Ultra Jaya  dan ke depan dengan Frisian Flag, namun untuk kerjasama dengan BUMD Taufik minta dorongan dan fasilitasi dari Dewan.
            Terkait dengan CSR dari swasta, Eka mendorong hal tersebut untuk dilakukan terlebih Jawa Barat memiliki Perda yang memungkinkan dilakukannya hal tersebut. Bahkan menurut Eka apa yang dilakukan di Jawa Barat dengan CSR akan menjadi percontohan nasional.@1

No comments:

Post a Comment