Thursday, 4 July 2013

Pedagang Tuntut Pemprov stabilitaskan Tataniaga Daging Ayam melalui Perda




 @1
Para pedagang daging ayam yang tergabung dalam Asosiasi  Pedagang Tradisional Unggas mendatangi DPRD Jabar dan menuntut agar pemprov jabar bersama DPRD mengeluarkan Perda yang mengatur tataniaga daging ayam di Jawa Barat  yang selama ini dengan sewenang-wenang dipermaikan oleh para pengusaha di tingkat hulu yang dengan sewenang-wenang menaikan harga DOC (Day Old Chicken/anak ayam baru netas)
Para pedagang yang diterima di Komisi B DPRD Jabar oleh Irwan Kusandiantoro dan Awing Asmawi, keduanya dari Fraksi Partai Demokrat,  mengadukan kesulitan mereka dengan  semakin  melambungnya harga daging ayam di pasaran menjelang datangnya bulan Suci Ramadhan, yan g berakibat sulitnya mereka berusaha. Bahwa sudah sepekan ini harga daging ayam terus naik, bahkan hari ini harganya sudah mencapai Rp.35.000 /kg.
Dikatakan Usep,  Kenaikan harga ini sungguh tidak wajar, bayangkan saja, harga biasa hanya berkisar Rp 25.500/kg, kini mencapai Rp.35.000/kg . Bahkan  diperkirakan akan terus naik hingga mencapai kisaran Rp 40.000/kg menjelang awal Ramadhan nanti, akibat kenaikan yang tidak rasional ini, membuat para pedagang daging ayam merugi, karena memerlukan  tambahan modal untuk bisa mendapatkan barang dagangannya, juga menurunya daya beli konsumen. 
Melihat kenyataan yang dialaminya tersebut  mereka meminta pemerintah untuk segera melindungi dan membantu pedagang dan konsumen.  jika tidak,  keadaanya bisa semakin runyam, harga daging ayam semakin tidak stabil dan tidak terkendali.  Paling dirugikan atas terjadinya lonjakan harga daging ayam ini adalah pedagang.
Mensikapi semakin melonjak harga ini  Usep juga menyatakan , para pedagang daging ayam  akan mogok dagang  pada sabtu dan minggu ini,.  masalah kanaikan harga daging ayam sekarang ini seperti dipermainkan.  Sejak dahulu, masalah harga daging ayam  sumbernya di tingkat hulu, yakni produsen.  Dijelaskan, produsen yang ada sekarang adalah terdiri dari para konglomerat  ayam yang lebih dikenal dengan poultry shop (PS). Mereka seperti Comfeed, Sanbe, Misouri , Pokphan, dll.  Dan, para pengusaha besar itulah, yang mengusai pasar dan mengatur harga, mulai dari harga DOC (anak ayam), pakan dan obat-obatannya.
Untuk itulah mereka meminta DPRD dan  pemerintah membuat regulasi (pengaturan) yang jelas dan tegas.  Sehingga, masalah harga daging ayam bisa terkontrol dan terawasi. Tidak seperti kejadian sekarang yang cenderung liar sehingga meresahkan.
Sementara Irwan Kusandiantoro dan Awing Asmawi,  berjanji akan mengundang   Dinas Peternakan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar, untuk segera mengambil sikap dan bertindak.
“ Kondisi lonjakan daging ayam ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, untuk itu, dewan akan meminta pihak Disnak dan Disindag Jabar untuk segera melakukan operasi pasar dan menetapkan harga pasaran daging ayam, tegasnya.@1.        

No comments:

Post a Comment